" Masih saja kau memburu luka, sedangkan kau
tahu sejenak saja kau lengah dia akan berbalik menerkammu." Mata bulat
dan bening itu memberinya sebuah peringatan. Peringatan yang tiap kali
dia lihat saat kerinduan menjadi api paling bara di dadanya. Mungkin
hujan yang di tunggu tak akan padamkan. " Aku hanya ingin menatapnya hingga memutih nanah." Gadis manis dengan tatap setajam pecahan karang itu...
menjawab. Keteguhan itu tergambar antara sebuah keikhlasan dan juga
pertahanan. Mungkin terkadang hatinya berperang serupa senja di mangsa
malam.
" Lihat di kedalaman hati kau, Nesya. Lukamu sungguh
sudah rengkah, tapi tak jua kau akui itu, wajahmu kian pias dan tiap
senja kau selalu menatap gelembung awan. Apa yang kau harapkan. Buat apa
lagi kau menatapnya. Menatap luka ."
" Aku menginginkan
langit runtuh menimpaku, dan aku mati kemudian." Lalu gadis yang di
sebut Nesya berpaling dan satu senyuman sinis tergambar dari lengkungnya
yang semula mengalahkan model iklan pasta gigi.
"Kau terlalu
bodoh Nesya. Kau bodoh mau berdiri di atas altar cinta buta. Kau lihat
di sana ada lelaki yang menunggumu dengan setia tapi kenapa kau malah
menunggu Haikal yang jelas-jelas akan berlalu dari hadapanmu, Nesya."
Suara perempuan kedua itu meninggi. Sepertinya Ia tak rela gadis yang
bernama Nesya itu luka. Terlalu lama.
" Ini bukan urusanmu,
Anggun. Kau tak akan paham bagaimana rasanya aku pada Haikal, kau juga
tak kan paham aku mencintainya bukan seperti kau dan mereka pikirkan."
Lalu pupilnya mengecil sebuah sunggingan kecil membias di wajahnya.
Anggun melangkah jauh dengan itu dia tahu sahabatnya luka telah begitu
parah.
*to be continue