Kamis, 13 Maret 2014

Riak Danau dan Kota Yang Rindu

Pada malam yang hampir menyetiga
Aku, sepi yang hujan di pelupuk mata
Rindu bermain-main di kepala
Riak danau dan bau tanah

Kota tua, pun putih yang kilau
Dingin menjadi api dalam sepi
Ah, kau pilu yang menghilang
Pada endapan salju-salju tepian danau
: dulu

Dan pada hijau tua di matamu itu
Aku menikmati riak yang mengalun
Angsa-angsa putih berkejaran
Ah.. cinta adalah kedamaian yang tak berwujud
Dan aku suka,riak danau di kota itu
: kota yang rindu

Padang, Di Batas Kenangan, 13 Maret 2013, 22.16


Sabtu, 15 Februari 2014

Pada Sekilas Rindu Di Matamu

Pagi yang datang, senja yang hilang, kamu yang pulang adalah matahari yang sempurna di dingin kota ini, sehingga pekat kalap, dan diam memucat, entah apa lagi yang akan datang, kala senja padam, matahari tenggelam, kau bawakan padaku sekejapan angan.

Serupa pekat sayang, rindu ini kian kilat, aku taku terbakar, sebelum waktunya menyalakan pepucuk api, mungkin esok di tahun yang tak lagi sama aku mampu kembali, pada matamu yang menyiratkan seribu mimpi, yah pada sekilas rindu di matamu yang tak mampu di sebut biru.

Kamis, 06 Februari 2014

Pada Masa Kecil Yang Rindu

Sebelum tidur, pada kaba yang selalu mengiring gesekan biola Abak, kepiawaian merenda kalimat menjadi ceritacerita bernada. Pada senyum yang melingkar di bibir Amak. Ahh masa kecil yang sayang, meski bermain dengan kata malang.

Bahagia yang sederhana, Mak tawa yang sempurna, Bak. Aku rindu, pada masa yang tak akan lagi kembali. Masa kanak yang jauh dari sunyi, kala besepeda di pundak Abak. Kala berbaring di pangkuan Amak.


Ahhh...betapa masa cepat berlari, semakin menua segalanya kini. Bahkan bungsumu telah dua puluh tahun lebih,Mak. Apalagi aku si tengah yang mada katamu. Dan sulungmu yang telah memberimu cucu.


Uihh...aku rindu mak....pada masamasa berlarian pergi mengaji, melewati belukar selebat mimpi, bahkan tak jarang tersaruk pada semen panjang yang patah itu, hanya demi menghindari senja yang jatuh. Menyeberang pangian setiap pagi. Dengan sobekan sepatu, rumah bambu, dan lumpur lumpur yang mengering di merah putihku. Tak jarang, aku dan sulungmu itu jadi tawa sebaya, jadi olokan yang kaya, karena sekolah tak punya gaya.

Aihhh, betapa tak lupa aku Mak, susahnya menanam padi, peliknya menebar benih, pahitnya menuai hari, jadi gembala setiap hari, bahkan tak jarang di marahi. Lantaran aku salah membawa pulang ternak, karena lupa.


Ahh,Mak, betapa ngiang di telingaku, gunjingan ibuibu tentangmu yang tak pernah berganti baju, yang tak pernah tau merek sepatu terbaru, apalagi lokak dari beludru.



Tapi sabar di matamu emas, Mak, tabah di hatimu berlian, hingga kilaunya diam sampai kini, dan cahayanya tak pernah mati. Dan kami, tiga cintamu akan selalu berterima kasih.

‪#‎taragakjomsokanakkanak‬

Jumat, 03 Januari 2014

Pablo Neruda : Sonnet XVII: Love

I don't love you as if you were the salt-rose, topaz
or arrow of carnations that propagate fire:
I love you as certain dark things are loved,
secretly, between the shadow and the soul.

I love you as the plant that doesn't bloom and carries
hidden within itself the light of those flowers,
and thanks to your love, darkly in my body 

lives the dense fragrance that rises from the earth.

I love you without knowing how, or when, or from where,
I love you simply, without problems or pride:

I love you in this way because I don't know any other way of loving
but this, in which there is no I or you,

so intimate that your hand upon my chest is my hand,
so intimate that when I fall asleep it is your eyes that close.

Saya jatuh cinta mendadak saat baca puisi satu ini, mungkin karena pas banget yah, hati saya yang rapuh ini cieeehh...lagi melabuh pada seorang lelaki bermata greek green dengan senyum yang menawan haduh...!! kok malah melantur gini toh yaahh...padahal kan mau bahas Pablo Neruda

Yukkk intipp...

Pablo Neruda (lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 – meninggal 23 September 1973 pada umur 69 tahun) adalah nama samaran penulis Chili, Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto.

Neruda yang dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20, adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya "penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun". Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.

Pada masa hidupnya, Neruda terkenal karena keyakinan-keyakinan politiknya. Sebagai seorang komunis yang vokal, ia pernah sebentar menjadi senator untuk Partai Komunis Chili di Kongres Chili sebelum terpaksa mengasingkan diri.Nama samaran Neruda diambil dari nama penulis dan penyair Ceko, Jan Neruda; belakangan nama ini menjadi nama resminya.

nah...segitu doank dulu yahh..soalnya otak lagi gak konsen mau bahas masalah ini, karena terlalu banyak hal yang ada di kepala ini gara2 dengar lagu ressa herlambang yang meloww bangett... 

Timer

About

Seseorang yang sedang belajar menulis, masih belajar dan terus belajar.

The Visitor of My Blogs

Flag Counter