Senin, 09 Januari 2017

SEPOTONG CERITA

Senja sebentar lagi melamat disini,jarum jam menunjuk angka 14.06 siang,penantian masih lumayan tunggu,menjelang 15.30 saya masih harus duduk disini,menunggu pada seseorang di dalam gedung berlambang Garuda itu, yang masih mengerjakan dokumen-dokumen saya yang butuh di legalisir,di luar dingin pelan-pelan mulai kembali membelai pori melalui pintu yang tertutup dan terbuka seiring pengunjung Cafe yang lalu lalang,ah bukan Cafe tapi Lobby sebuah Hotel tepatnya,yang berada di sebelah gedung yang berjendela putih bisu. 

Yah,saya disini,sementara demi bisa berselancar didunia maya,setidaknya begitu.
Seperinya Matahari sudah ingin kembali,pada selimut biru,pada awan-awan pilu,menyiapkan hujan,gelap atau mungkin malam ini akankah saya menikmati Salju,entahlah,seperti yang tak mungkin,tujuh derajat dan berangi ini bukanlah waktunya bunga-bunga dari langit itu jatuh,dan sudah bulan kesekian musim ini dan si putih lembut itu belum jua menyentuh bumi,setidaknya jiwa in sudah rindu,pada beku,pada bisu,ahh mungkin nanti di perjalanan yang masih panjang dan gugu,biarkan sajalah,setodaknya besok saya sudah harus kembali pada kota itu,kota yang sama dengan tiga tahun lalu.
Berlin, 14.19
27.12.16

Minggu, 18 Desember 2016

Karena Saya Ini Pemuisi

Karena tidak dikasih kesempatan membesarkan yang di sayang,menjaga yang pernah di kandungan,membesarkan cinta yang di damba,menjadi wanita yang seutuhnya,mungkin Allah lagi menyiapkan rencana lain yang tak pernah bisa di tebak.

Belajar sabar itu tidak mudah,berkata,'yang sabar,semua akan baik-baik saja',sungguh sangat mudah sekali. Saya bisa,yah saya bisa bilang saya sabar,saya iklas,tapi hati tetaplah manusiawi yang kadang rindunya melampaui batas iman.

Tapi di tengah kelemahan ini,kesakitan yang tengah berjuang untuk sembuh,tengah berperang untuk menahan tidak menangis,menjatuhkan air mata saat rindu,itu sangat tidak mudah,saat mencoba tersenyum saat menceritakan proses kelahirannya,menceritakan betapa aktifnya dia,menceritakan betapa bahagianya pernah bersamanya,itu tidak mudah,bagi yang belum merasakan,yang tidak merasakan akan mudah saja berkata,sungguh berkata itu sangat mudah.

Tapi segala hal,saya sadar,hidup saya ini hanya jembatan antara alam rahim dan alam kematian,saya sadar,kelak saya juga akan pulang,padaNya,pada Allah,yang telah membawa harapan saya itu terbang,saya sadar betul itu,tanpa harus di ingatkan,tanpa harus di debatkan,karena saya tahu betul,bahwa nyawa saya pun milik Dia,tapi sekali lagi atas manusia yang punya rasa luput,lupa,dosa dan hayalan,kadang mimpi saya yang tak sampai itu membawa air mata,yah saya menangis karenanya,jika saya harus memeluk tangan saya sendiri kala saya rindu pada yang ingin saya punya,rindu pada yang ingin saya timang.

Namun,berjalan itu tak pernah mundur,akan selalu maju,menata langkah pelan-pelan,perlahan,belajar menerima,entahlah ujian,cobaan bahkan mungkin azab di kehidupan,sehingga yang disayang di ambil duluan,atau mungkin karena Dia terlalu sayang,terlalu cinta,hingga sang bidadari pulang padaNya,sebelum sempat tersenyum dan membuka mata dan memanggil saya dengan sebutan Ma.

Hidup itu juang,perejuangan yang tak akan selesai,bahkan ketika tubuh berbalut kafan,hanya berharap saja,hati ini kuat,jiwa ini kian bermunajat dan kesempatan masih panjang,Dia adalah sebaik-baik perencana kehidupan,mungkin segala ketakutan dalam hatilah yang membuatnya membawa sang jiwa pergi,agar hati bisa lebih tabah,kokoh melebihi baja.

InshaAllah,saya masihlah pemimpi yang kepala di cahaya tak hendak menuju mati pun memadam,jadi,janganlah salahkan,jika masih dan masih ada puisi-puisi sakit dan rindu yang menjerit pada jiwa yang telah di peluk langit,karena sejatinya kawan,saya ini pemuisi.

Jumat, 18 November 2016

Kala Sepi adalah Mainan

Ah sayang
Degup didada daban
Serupa layang-layang
Tanpa tujuan
Sepi yang kalap
Sunyi yang lindap

Rindu berderap-derap
Kehilanganmu bukanlah yang kami harap
Ah,sayang.
Jiwa yang menjadi angan
Kamu pulang pada Tuhan
Kami hilang harapan

Segala yang masih
Adalah kenangan
Sepi
Sunyi
Senyap
Mimpi kami lindap
Seiring musim yang menggelap.

Arnstadt 02.00
19.11.16

Selasa, 07 Juni 2016

Dua Garis Merah Jambu di Februari Yang Beku



Dingin kota ini masih belum terlalu akrab dengan suhu badanku yang masih meng-Indonesia, aku baru datang tanggal 18 Februari kemarin, tepatnya tiga hari yang lalu, kota ini kota dimana cintaku menetap dan juga kota dimana aku mengenalnya , tahun 2013 lalu aku datang kesini sebagai tamu dari seorang wanita yang kukenal dari maya,yang akhirnya aku panggil Uni,sehingga kedatangan itu membuatku mengenal seorang lelaki pemilik mata hijau abu-abu dan berhidung merah jambu yang kini telah menjadi  junjungan hidup buatku.

Flashback....

Namanya Alif, kami  menikah dengannya 2015 lalu, dan pernikahan itu masih belum ada resepsi dan masih belum sesuai rencana,kita akan resepsi jika semua urusan selesai, surat-menyurat dan juga visa dan ternyata menikah lintas negara itu tidaklah mudah, perjuangan itu masih teramat panjang, baru memulai tepatnya,sehingga rencana demi rencana tersusun dengan indah dan waktu mengalir sempurna membawa kita pada arah yang sebenarnya.

&&&

Juni 2015 aku telah kembali kekota ini, berangkat menyusul kesayangan,sekalian ingin liburan musim panas di negara empat musim ini,dan pernikahan yang menginjak bulan kesekian, dan tanya demi tanya singgah bagai petasan dari segala penjuru mata angin, pertanyaan standar yang akhirnya terasa menyakitkan.

“ Kamu dah isi belum?”

“ Kamu kan dah beberapa bulan nikah kok masih belum hamil?”

“ Nunggu apalagi, kamu dah tua, dah berumur, kenapa masih belum hamil?”

Mulai dari pertanyaan standart, baik, menggoda atau bahkan memojokkan, ah ternyata begini hidup di awal pernikahan itu, jika tak tebal telinga mungkin saja ingin bikin sup manusia. Ahh sadisnya.

&&&

Setiap perempuan pasti ingin menikmati kodratnya sebagai seorang perempuan, di panggil ibu, merasakan detak jantung dalam debar, melihat detak jantung yang demikian degup. Sehingga keinginan itu tersampaikan kepada sang cinta,namun jawabannya masih mengecewakan.

“ Aku belum ingin kita punya baby sampai semua urusan kita kelar, aku gak mau kamu repot, karena sebelum visa nasionalmu keluar semuanya akan rumit nantinya.” Akhirnya aku mengalah dan bersabar untuk menunggu dalam menyerahkan semuanya sama pemilik kehidupan.

Sehingga waktu berlari cepat, 2015 berakhir dengan sempurna, visa telah di tangan, tiket telah di booking, dan resepsi impianpun telah di gelar sehingga sebuah kepergian telah di rancang.

&&&

Bulir- bulir salju dan dingin Februari  2016 menungguku, Frankfurt yang sibuk dan dingin yang menusuk, aku ingin pulang, kerumah yang hangat, rumah dimana cintaku berdiam, sehingga ICE 2465 itu membawaku 3 jam perjalanan menuju rumah, ah aku pulang, aku kembali, aku balik untuk hidup di negeri ini, benua ini, ahh cinta telah membawaku sejauh ini.

&&&

Ada tawa yang hangat, ada senyum yang melamat, ada rindu yang tak pernah tamat, dia menjemputku di Haupbahnhof, sebuah pelukan hangat meredakan dinginku yang gigil, cintalah yang membawaku pulang, pulang pada rumah kedua setelah rumah dimana kehangatan lain yang kutinggalkan, ada yang menghangat kurasa, ternyata telah begitu jauh kampung ku tinggalkan. Entah kapan akan kembali pulang.

Ahh  rumah ini masih sama, belum ada yang berubah, hanya basah embun musim dingin yang tak sama, hangatnya kini adalah pelukan, harapan yang membubung langit, mengangkasa seiring doa-doa, ah Tuhan, betapa harapku lebih besar dari badan.

&&&

Ini adalah pagi yang penuh oleh harapan setelah aku kembali, yah 3 hari yang lalu aku datang, dengan mimpi yang entah mungkin atau tidak, setelah sebulan yang lalu doa-doa menjura, langit telah berlukiskan angan, menjadi seorang perempuan yang benar-benar perempuan, sehingga pagi ini aku memberanikan sesuatu sambil berkomat-kamit menebalkan iman, menerima apapun yang akan di temui.

Kira-kira jam 10 pagi aku berangkat pergi belanja dan setelah membaca beberapa research di internet bahwa 4 hari sebelum masa periode itu telah bisa menunjukan sebuah keajaiban, sebuah keajaiban yang sungguh aku inginkan, aku membeli sebuah testpack dengan harga termurah,(belajar dari pengalaman sebelumnya kalau tak berhasil bisa di buang tanpa merasa rugi), sehingga pulang dengan harapan yang menjulang dan segelas air telah menunggu di kamar mandi. Dengan nafas yang kembang kempis, dengan dada yang berdegup kencang, aku mulai dengan segala doa yang memungkinkapan dan memejamkan mata beberapa saat lalu meninggalkan sampai mengering. Dan dalam 15 menit aku kembali, masih tidak berani melihat, masih memejamkan mata sambil membaca ribuan mantra.

Dan, Tuhaaaaaaaaaaaan garisnya dua merah jambu, aku terlonjak, aku berjingkrak, aku menangis, entahlah mungkin beginilah semua wanita yang menunggu, ahh Tuhan manis sekali kejutan-Mu, namun ketakutan masih dalam diriku, sehingga tak percaya pada yang terlihat, tak yakin pada yang tampak dan biar kian pasti, aku kembali ke supermarket itu, setengah berlari dengan degup jantung yang memburu, dan mengambil dua lagi alat ajaib itu, dua warna, dengan harga yang luar biasa.

Dengan gelas baru, air baru, dua gelas, berbeda, aku kembali mencoba dua-duanya, dan hasilnya masih sama, dua garis merah, yah garis merahh dan tulisan itu nyata, nyata,sehingga tangis bahagia itu berubah menjadi ketakutan, mental yang di ganyang. Aku hamil? Siapkah aku? Aku akan jadi ibu? Siapkah aku?, namun terlebih dari itu aku tertawa, aku bahagia, maaaakk aku akan jadi ibu, engkau akan punya cucu. Ahh ini februari yang sungguh merah jambu. 


Desty Dasril

Arnstadt, 20 Februari 2016

Timer

About

Seseorang yang sedang belajar menulis, masih belajar dan terus belajar.

The Visitor of My Blogs

Flag Counter